LAPORAN OBSERVASI
MUSEUM WAYANG
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Wisata Museum
Dosen
Pengampu : Laely Armiyati , M.Pd.

DISUSUN OLEH :
ABD.ZAKARIA
(1401087002)
WIRNY
NURJANAH (1501075030)
SYAFITRI
(1501075029)
RIANTO
ALDI (1501075025)
RESTU
HERLAMBANG (1501075024)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami
panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan
Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun laporan penelitian ini dengan baik dan
tepat pada waktunya. Dalam laporan penelitian ini kami membahas penelitian
mengenai Museum Wayang . Laporan
ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak
untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan laporan
ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Kami menyadari bahwa
masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan ini. Oleh karena itu kami
mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan
karya tulis ini selanjutnya. Akhir
kata penulis berharap atas nama Tuhan Yang Maha Esa semoga laporan karya tulis
ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua pihak.
ii
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR…………………………….…………………..………ii
DAFTAR
ISI………………………….………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG………………………………………………………3
1.2 RUMUSAN MASALAH…………………………………………………...4
1.3 TUJUAN
PENELITIAN……………………………………………………4
BAB II PROFIL MUSEUM
2.1
KEPEMILIKAN………………………………………………………..….5
2.2
SEJARAH……………………………………………………………….....5-6
2.3 RUANG PAMER MUSEUM
WAYANG…………………………………62
2.4 KOLEKSI…………………………………………………………………..7
BAB III ANALISIS
PERKEMBANGAN MUSEUM
3.1
STRENGHT/KEKUATAN………………………………………………..8
3.2
WEAKNESS/KELEMAHAN……………………………………………..8
3.3
OPPORTUNITIES/PELUANG………………………………………...…8
3.4
THREAT/ANCAMAN……………………………………………………8
BAB IV PENUTUP
4.1KESIMPULAN…………………………………………………………....9
4.2SARAN…………………………………………………………………....9
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………10
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, gedung, dan benda-benda bersejarah
yang sangat berharga. Sebagai warga Negara Indonesia kita harus mampu menjaga
dan melestarikan kekayaan yang ada di Indonesia. Sebagai salah satu contoh
tempat wisata di Jakarta Barat yaitu Museum Wayang.
Asal-usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara
akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang
dalam kehidupan masyarakat. Wayang akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga
sekarang, karena memang wayang merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa
Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional, dan merupakan puncak
budaya daerah.
Menelusuri asal-usul wayang secara
ilmiah memang bukan hal yang mudah. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini
banyak para cendikiawan dan budayawan berusaha meneliti dan menulis tentang
wayang. Ada persamaan, namun tidak sedikit yang saling silang pendapat. Hazeu
berbeda pendapat dengan Rassers begitu pula pandangan dari
pakar Indonesia seperti K.p.a. Kusumadilaga, Ranggawarsita, Suroto,
Sri Mulyono dan lain-lain.
Namun semua cendikiawan tersebut jelas
membahas wayang Indonesia dan menyatakan bahwa wayang itu sudah ada dan
berkembang sejak zaman kuno, sekitar tahun 1500SM, jauh sebelum agama dan
budaya dari luar masuk ke Indonesia.
Jadi, wayang dalam bentuknya yang masih
sederhana adalah asli Indonesia, yang
dalam proses perkembangan setelah bersentuhan dengan 3 unsure-unsur lain, terus berkembang
maju sehingga menjadi wujud dan isinya
seperti sekarang ini. Sudah pasti perkembangan itu tidak akan berhenti,
melainkan akan terus berlanjut di masa-masa mendatang.
Museum wayang masuk dalam kategori khusus
ini mempunyai peninggalan-peninggalan wayang-wayang yang mulai dilupakan oleh
warga Negara Indonesia. Kami berharap Museum Wayang dan museum yang lainnya tetap
dikembangkan, sehingga
dari adanya penulisan karya tulis ini diharapkan pembaca terdorong untuk bisa
lebih mencintai bangsa Indonesia tercinta ini. Oleh karena itu penulis mengambil judul karya
tulis “Museum Wayang”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
sejarah Museum Wayang ?
2. Bagaimana
status kepemilikan Museum Wayang ?
3. Bagaimana
analisis pengembangan Museum dengan menggunakan analisis S.W.O.T ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan diadakannya kegiatan observasi adalah sebagai berikut :
- Untuk
mengetahui potensi yang dimili Museum Wayang Indonesia yang dapat
dikembangkan menjadi objek wisata budaya.
- Untuk
mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata untuk
mengembangkan Museum Wisata Indonesia menjadi objek wisata budaya.
4
BAB
II
PROFIL
MUSEUM
2.1 KEPEMILIKAN
Dibangun tahun 1912, Museum Wayang
awalnya adalah gereja. Gereja tua ini sendiri dibangun tahun 1640. Sempat
mengalami rekonstruksi beberapa kali (termasuk karena sebuah gempa besar),
Museum Wayang akhirnya menjadi milik pemerintah Indonesia tahun 1968. Begitu
banyak perpindahan kepemilikan terjadi dalam rentang waktu hampir 100 tahun.
2.2
SEJARAH
Gedung Museum Wayang
pada awalnya merupakan bangunan gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan
nama “de oude Holandsche Kerk”. Pada tahun 1732
diperbaiki dan diganti menjadi nama “de
Nieuw Holandsche Kerk”. Bangunan ini pernah hancur akibat gempa bumi.
Lembaga
yang pernah menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli bangunan ini
dan diserahkan kepada “Stichting Oud
Batavia” dan tanggal 22 Desember
1939 dijadikan museum dengan nama “Oude
Bataviasche Museum”. Tahun
1957 diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia.
Gambar
2.1 Museum Wayang
5
Tanggal 17
september 1962 diberikan kepada Departemen P dan K, kemudian diserahkan kepada
pemerintah DKI tanggal 23
Juni 1968 untuk dijadikan
Museum Wayang. Dan tanggal
13 Agustus 1975 diresmikan
oleh Gubernur DKI Jakarta Bpk.
H. Ali Sadikin. Sejak 16 September
2003 mendapat perluasan bangunan hibah dari Bapak Probosutedjo.
Museum Wayang terletak di Jl. Pintu
Besar Utara No. 27 Jakarta Barat yang berdampingan dengan Museum Fatahillah.
2.3 RUANG PAMER MUSEUM
WAYANG
Ruang Pertama berisi tentang koleksi wayang golek khas Jawa Barat yang berukuran besar. Wayang ini dipajang di dalam etalase kaca dengan pengaturan lampu yang cukup artistik.
Ruang Pertama berisi tentang koleksi wayang golek khas Jawa Barat yang berukuran besar. Wayang ini dipajang di dalam etalase kaca dengan pengaturan lampu yang cukup artistik.
Beberapa monitor ICD
dipasang untuk memberikan
penjelasan mengenai koleksi Wayang yang ditampilkan dalam Museum Wayang ini.
Penyajian Wayang ini cukup menarik dan menambah wawasan dalam dunia pewayangan Indonesia.
Bekas halaman
gereja tua saat ini menjadi taman terbuka Museum Wayang. Di dalamnya terdapat
taman kecil dengan prasasti-prasasti berjumlah 9 buah. Prasasti-prasasti
tersebut menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di
halaman gereja. Diantara prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen,
seorang Gubernur Jendral yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30
mei 1619 setelah kekuasaan Prabu Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan
Kraton Banten. Memasuki sebuah taman kecil, selanjutnya memasuki ruangan yang
berisi koleksi Wayang boneka Unyil dan Wayang Kartun dan mempunyai ruangan
pagelaran, 3D.
Di lantai 2
terdapat beberapa wayang dari luar negeri, di antaranya Wayang India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan China. Ruangan
selanjutnya terdapat koleksi Wayang Kulit Jawa dari cerita Mahabarata dan
Ramayana. Selain itu terdapat koleksi seperangkat gamelan Jawa. Di ruangan
terakhir terdapat perpustakaan.
6
2.4 KOLEKSI
Museum
Wayang memamerkan 6000 koleksi. Selain wayang yang berasal dari sejumlah daerah
di tanah air seperti, Sunda , Jawa , Bali , Lombok dan Sumatra. Terdapat
pula wayang mancanegara seperti dari Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.
BEBERAPA
KOLEKSI DI MUSEUM WAYANG

(Tembikar Semar dari Cirebon, Jawa Barat)

(King Rahwana Wooden
Puppet)

(Kecrek Bali)
7
BAB
III
ANALISIS
PERKEMBANGAN MUSEUM
3.1 STRENGH/KEKUATAN
Berdasarkan observasi,
berikut adalah kekuatan yang dimiliki oleh museum :
1. Koleksi
Wayang yang banyak dan lengkap. Koleksi Wayang yang berasal dari berbagai daerah di
Indonesia bahkan ada beberapa dari Negara tetangga seperti Malaysia, Kamboja,
Vietnam, Thailand. Wayangnya juga dirawat dengan baik.
2. Staff
yang ramah
3. Terdapat
brosur dari berbagai
bahasa, untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung dilengkapi dengan kamera cctv
di setiap sudut gedung.
3.2 WEAKNESS/KELEMAHAN
Berdasarkan
observasi, kelemahan dari museum ini adalah
1. Warna
gedung yang bercatkan putih dengan jendela hijau, membuatnya tidak terlalu
mencolok dan menarik.
2. Staff
yang tidak tersebar dengan rata menyulitkan pengunjung untuk bertanya secara
jelas, sirkulasi udara kurang baik.
3.3
OPPORTUNITIES/PELUANG
Apa faktor-faktor yang
membuat peluang itu semakin besar?
Meningkatkan
jumlah pengunjung lebih dari 10.000 Per Pekan-nya, Go Internasional dengan cara
menambah jumlah koleksi dari Luar Negeri atau Negara-negara yang mempunyai kebudayaan
sejenis dengan wayang dikarenakan hari pekan , peneitian ilmiah ,pusat pengenalan
kebudayaan antar daerah dan antar bangsa.
3.4 THREAT/ANCAMAN
Jumlah pengunjung yang mengalami penurunan
dikarenakan bangunannya yang tua,
8
BAB
IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dari data pengamatan yang penulis
lakukan dapat disimpulkan bagaimana sejarah maupun ruang lingkup Museum Wayang di Jakarta Barat. Karena
kurangnya kertertarikan masyarakat terhadap museum, serta fasilitas yang
kurang mendukung yang mengakibatkan kurang diminati oleh masyarakat di Indonesia.
4.2 SARAN
Sebaiknya pemerintah memperhatikan
kemanan, dan
kenyamanan dan
koleksi-koleksi yang ada di museum wayang agar menjadi museum yang diminati di Masyarakat. Pada pihak
museum memberikan sarana yang layak. Juga generasi muda dan seluruh masyarakat
juga ikut melestarikan dan membuat museum ini dan museum lainnya menjadi salah
satu icon wisata Indonesia di mata dunia yang mempelajari atau dapat mengetahui
pelajaran tentang seni dari wayang.
9
DAFTAR PUSTAKA
Cahyano,Didi
10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar