Laman

Selasa, 12 April 2016

wisata museum

LAPORAN OBSERVASI MUSEUM WAYANG
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Wisata Museum
Dosen Pengampu : Laely Armiyati , M.Pd.

DISUSUN OLEH :
ABD.ZAKARIA (1401087002)
WIRNY NURJANAH (1501075030)
SYAFITRI (1501075029)
RIANTO ALDI (1501075025)
RESTU HERLAMBANG (1501075024)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA
2015




KATA PENGANTAR
 Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun laporan penelitian ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam laporan penelitian ini kami membahas penelitian mengenai Museum Wayang .                                                                                                                                             Laporan ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan laporan ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.                                                                                                               Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan ini. Oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan karya tulis ini selanjutnya.                              Akhir kata penulis berharap atas nama Tuhan Yang Maha Esa semoga laporan karya tulis ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua pihak.












                                                                                                                        ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………….…………………..………ii     
DAFTAR ISI………………………….………………………………………iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG………………………………………………………3
1.2  RUMUSAN MASALAH…………………………………………………...4
1.3 TUJUAN PENELITIAN……………………………………………………4

BAB II PROFIL MUSEUM
2.1 KEPEMILIKAN………………………………………………………..….5
2.2 SEJARAH……………………………………………………………….....5-6
2.3 RUANG PAMER MUSEUM WAYANG…………………………………62
2.4 KOLEKSI…………………………………………………………………..7

BAB III ANALISIS PERKEMBANGAN MUSEUM
3.1 STRENGHT/KEKUATAN………………………………………………..8
3.2 WEAKNESS/KELEMAHAN……………………………………………..8
3.3 OPPORTUNITIES/PELUANG………………………………………...…8
3.4 THREAT/ANCAMAN……………………………………………………8

BAB IV PENUTUP
4.1KESIMPULAN…………………………………………………………....9
4.2SARAN…………………………………………………………………....9

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………10



                                                                                                                        ii
BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, gedung, dan benda-benda bersejarah yang sangat berharga. Sebagai warga Negara Indonesia kita harus mampu menjaga dan melestarikan kekayaan yang ada di Indonesia. Sebagai salah satu contoh tempat wisata di Jakarta Barat yaitu Museum Wayang.
Asal-usul  dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam kehidupan masyarakat. Wayang akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, karena memang wayang merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional, dan merupakan puncak budaya daerah.
Menelusuri asal-usul wayang secara ilmiah memang bukan hal yang mudah. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini banyak para cendikiawan dan budayawan berusaha meneliti dan menulis tentang wayang. Ada persamaan, namun tidak sedikit yang saling silang pendapat. Hazeu berbeda pendapat dengan Rassers begitu pula pandangan dari pakar Indonesia seperti K.p.a. Kusumadilaga, Ranggawarsita, Suroto, Sri Mulyono dan lain-lain.
Namun semua cendikiawan tersebut jelas membahas wayang Indonesia dan menyatakan bahwa wayang itu sudah ada dan berkembang sejak zaman kuno, sekitar tahun 1500SM, jauh sebelum agama dan budaya dari luar masuk ke Indonesia.
Jadi, wayang dalam bentuknya yang masih sederhana adalah asli Indonesia, yang dalam proses perkembangan setelah bersentuhan dengan                                                                                                                                  3 unsure-unsur lain, terus berkembang maju sehingga menjadi wujud dan isinya      seperti sekarang ini. Sudah pasti perkembangan itu tidak akan berhenti, melainkan akan terus berlanjut di masa-masa mendatang.
Museum wayang masuk dalam kategori khusus ini mempunyai peninggalan-peninggalan wayang-wayang yang mulai dilupakan oleh warga Negara Indonesia. Kami berharap Museum Wayang dan museum yang lainnya tetap dikembangkan, sehingga dari adanya penulisan karya tulis ini diharapkan pembaca terdorong untuk bisa lebih mencintai bangsa Indonesia tercinta ini. Oleh karena itu penulis mengambil judul karya tulis “Museum Wayang”.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah Museum Wayang ?
2.      Bagaimana status kepemilikan Museum Wayang ?
3.      Bagaimana analisis pengembangan Museum dengan menggunakan analisis S.W.O.T ?

1.3 Tujuan Penelitian
  Tujuan diadakannya kegiatan observasi adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui potensi yang dimili Museum Wayang Indonesia yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata budaya.
  2. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata untuk mengembangkan Museum Wisata Indonesia menjadi objek wisata budaya.







                                                                                                                        4
BAB II
PROFIL MUSEUM

2.1 KEPEMILIKAN
Dibangun tahun 1912, Museum Wayang awalnya adalah gereja. Gereja tua ini sendiri dibangun tahun 1640. Sempat mengalami rekonstruksi beberapa kali (termasuk karena sebuah gempa besar), Museum Wayang akhirnya menjadi milik pemerintah Indonesia tahun 1968. Begitu banyak perpindahan kepemilikan terjadi dalam rentang waktu hampir 100 tahun.

2.2  SEJARAH
Gedung Museum Wayang pada awalnya merupakan bangunan gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan nama “de oude Holandsche Kerk”. Pada tahun 1732 diperbaiki dan diganti menjadi nama “de Nieuw Holandsche Kerk”. Bangunan ini pernah hancur akibat gempa bumi.
Lembaga yang pernah menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli bangunan ini dan diserahkan kepada “Stichting Oud Batavia” dan tanggal 22 Desember 1939 dijadikan museum dengan nama “Oude Bataviasche Museum”. Tahun 1957 diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia.


Gambar 2.1 Museum Wayang                                                                                                                                   



                                                                                                                                                                                                                                                            5
Tanggal 17 september 1962 diberikan kepada Departemen P dan K, kemudian diserahkan kepada pemerintah DKI tanggal 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang. Dan tanggal 13 Agustus 1975 diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Bpk. H. Ali Sadikin. Sejak 16 September 2003 mendapat perluasan bangunan hibah dari Bapak Probosutedjo.
Museum Wayang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat yang berdampingan dengan Museum Fatahillah.

2.3  RUANG PAMER MUSEUM WAYANG
             
Ruang Pertama berisi tentang koleksi wayang golek khas Jawa Barat yang berukuran besar. Wayang ini dipajang di dalam etalase kaca dengan pengaturan lampu yang cukup artistik.
 Beberapa monitor ICD dipasang untuk memberikan penjelasan mengenai koleksi Wayang yang ditampilkan dalam Museum Wayang ini. Penyajian Wayang ini cukup menarik dan menambah wawasan dalam dunia pewayangan Indonesia.
Bekas halaman gereja tua saat ini menjadi taman terbuka Museum Wayang. Di dalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasasti berjumlah 9 buah. Prasasti-prasasti tersebut menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman gereja. Diantara prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jendral yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30 mei 1619 setelah kekuasaan Prabu Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Kraton Banten. Memasuki sebuah taman kecil, selanjutnya memasuki ruangan yang berisi koleksi Wayang boneka Unyil dan Wayang Kartun dan mempunyai ruangan pagelaran, 3D.
Di lantai 2 terdapat beberapa wayang dari luar negeri, di antaranya Wayang India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan China. Ruangan selanjutnya terdapat koleksi Wayang Kulit Jawa dari cerita Mahabarata dan Ramayana. Selain itu terdapat koleksi seperangkat gamelan Jawa. Di ruangan terakhir terdapat perpustakaan.


                                                                                                                        6
2.4 KOLEKSI
Museum Wayang memamerkan 6000 koleksi. Selain wayang yang berasal dari sejumlah daerah di tanah air seperti, Sunda , Jawa , Bali , Lombok dan Sumatra. Terdapat pula wayang mancanegara seperti dari Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.

BEBERAPA KOLEKSI DI MUSEUM WAYANG
  
(Tembikar Semar dari Cirebon, Jawa Barat)
(King Rahwana Wooden Puppet)
(Kecrek Bali)

                                                                                                7


BAB III
ANALISIS PERKEMBANGAN MUSEUM

3.1  STRENGH/KEKUATAN
Berdasarkan observasi, berikut adalah kekuatan yang dimiliki oleh museum :
1.      Koleksi Wayang yang banyak dan lengkap. Koleksi  Wayang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan ada beberapa dari Negara tetangga seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, Thailand. Wayangnya juga dirawat dengan baik.
2.      Staff yang ramah
3.      Terdapat brosur dari berbagai bahasa, untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung dilengkapi dengan kamera cctv di setiap sudut gedung.
3.2 WEAKNESS/KELEMAHAN
Berdasarkan observasi, kelemahan dari museum ini adalah
1.      Warna gedung yang bercatkan putih dengan jendela hijau, membuatnya tidak terlalu mencolok dan menarik.
2.      Staff yang tidak tersebar dengan rata menyulitkan pengunjung untuk bertanya secara jelas, sirkulasi udara kurang baik.
3.3  OPPORTUNITIES/PELUANG
Apa faktor-faktor yang membuat peluang itu semakin besar? 
      Meningkatkan jumlah pengunjung lebih dari 10.000 Per Pekan-nya, Go Internasional dengan cara menambah jumlah koleksi dari Luar Negeri atau Negara-negara yang mempunyai kebudayaan sejenis dengan wayang dikarenakan hari pekan , peneitian ilmiah ,pusat pengenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa.
3.4 THREAT/ANCAMAN
 Jumlah pengunjung yang mengalami penurunan dikarenakan bangunannya yang tua,

                                                                                                                        8
BAB IV
PENUTUP

4.1  KESIMPULAN
Dari data pengamatan yang penulis lakukan dapat disimpulkan bagaimana sejarah maupun ruang lingkup Museum Wayang di Jakarta Barat. Karena kurangnya kertertarikan masyarakat terhadap museum, serta fasilitas yang kurang mendukung yang mengakibatkan kurang diminati  oleh masyarakat di Indonesia.

4.2  SARAN
Sebaiknya pemerintah memperhatikan kemanan, dan kenyamanan dan koleksi-koleksi yang ada di museum wayang agar menjadi museum  yang diminati di Masyarakat. Pada pihak museum memberikan sarana yang layak. Juga generasi muda dan seluruh masyarakat juga ikut melestarikan dan membuat museum ini dan museum lainnya menjadi salah satu icon wisata Indonesia di mata dunia yang mempelajari atau dapat mengetahui pelajaran tentang seni dari wayang.










                                                                                                                                                                                                                                                            9 

DAFTAR PUSTAKA

Cahyano,Didi

























                                                                                                                        10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar