MAKALAH TENTANG KEBUDAYAAN CIREBON
Disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Antropologi
Dosen Pengampu : Tellys
Corliana, M. Hum
DISUSUN
OLEH :
WIRNY
NURJANAH (1501075030)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PROF.DR.HAMKA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Salah
satu bentuk kebudayaan Nasional adalah sistem ritual upacara keagamaan yang
banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Upacara Panjang Jimat di Keraton
Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu bentuk kebudayaan lokal yang ikut
memperkaya kebudayaan Nasional Indonesia. Upacara Panjang Jimat sudah
dilaksanakan sejak Keraton Kasepuhan didirikan dan terus berlangsung sampai
sekarang.
Panjang Jimat merupakan salah satu tradisi kuno yang
masih dilakukan hingga saat ini. Pada proses pelaksanaan panjang jimat yang di
laksanakan pada puncak (pelal) Maulid Nabi telah banyak perubahan yang
dilakukan demi penyesuaian antara tradisi lama dengan keadaan masyarakat yang
melaksanakannya pada saat ini. Bahwa perubahan sosial dan kebudayaan yang telah
dan sedang terjadi di lingkungan Cirebon telah mempengaruhi situasi dan kondisi
Keraton Kasepuhan. Perubahan sosial dan kebudayaan tersebut, di antaranya,
telah mempengaruhi keseragaman tata cara hidup tradisional. Keraton sebagai institusi
yang terlahir dari tradisi lamapun tidak luput dari pengaruh perubahan
tersebut. Sebagai contoh pada tradisi Panjang Jimat yang mengalami banyak
perubahan dari dahulu hingga saat ini.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
BAGAIMANA SEJARAH CRIREBON ?
2.
APA PENGERTIAN UPACARA PANJANG JIMAT ?
3.
BAGAIMANA PELAKSANAAN DAN PERUBAHAN UPACARA PANJANG JIMAT ?
TUJUAN
PENULISAN
1.
MENGETAHUI SEJARAH CIREBON
2.
MENGETAHUI PENGERTIAN UPACARA PANJANG JIMAT
3.
MENGETAHUI PELAKSANAAN DAN PERUBAHAN UPACARA PANJANG JIMAT
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH CIREBON
Asal kota Cirebon ialah pada abad ke
14 di pantai utara Jawa Barat ada desa nelayan kecil yang bernama Muara Jati
yang terletak di lereng bukit Amparan Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan
kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang
sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati
banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang
datang untuk berniaga dengan penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah
garam, hasil pertanian dan terasi. Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan
sebuah pemukiman di lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah
Selatan dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari
daerah-daerah lain yang bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban
yang berarti campuran kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga
sekarang.
Raja
Pajajaran Prabu Siliwanggi mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala
pemukiman baru ini dengan gelar Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah
pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali Cipamali di sebelah Timur, Cigugur
(Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan Kromong di sebelah Barat dan Junti
(Indramayu) di sebelah Utara. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat kemudian
digantikan oleh menantunya yang bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi
dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon
dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah membawa upeti kepada Raja di
ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan tetapi setelah merasa kuat
meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim bala tentara, tetapi
Cakrabumi berhasil mempertahankannya.
Kemudian
Cakrabumi memproklamasikan kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon
dengan memakai gelar Cakrabuana. Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam
dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon,
tetapi masih tetap ada hubungan dengan kerajaan Hindu Pajajaran.
Semenjak
itu pelabuhan kecil Muara Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas
dari dan ke arah pedalaman, menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia
Tengara. Dari sinilah awal berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar
sampai sekarang ini. Pangeran Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati
sekitar Tahun 1430 M, yang letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan
Cirebon
B.
PENGERTIAN UPACARA PANJANG JIMAT
Upacara Panjang Jimat yang merupakan
rentetan dari acara maulidan di Keraton Kasepuhan awalnya hanyalah sebuah
upacara peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat
ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya.
Panjang Jimat adalah sebuah ritual
tradisional yang rutin dan turun temurun di laksanakan di Keraton Cirebon
(Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan dan Kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah
atau Sunan Gunung Djati, pendiri kasultanan Cirebon), tiap malam 12 Rabiul Awal
atau Maulid, yakni bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan
memang, tujuan utama dari panjang jimat ini sendiri adalah untuk memperingati
dan sekaligus mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad. Sebutan Panjang Jimat
sendiri adalah berasal dari dua kata yaitu Panjang dan Jimat. Panjang yang artinya
lestari dan Jimat yang berarti pusaka. Jadi, secara etimologi, panjang jimat
berarti upaya untuk melestarikan pusaka paling berharga milik umat Islam selaku
umat Nabi Muhammad yaitu dua kalimat syahadat. Atau kalau merujuk pada utak
atik gatuk dalam bahasa Jawa Cirebon, jimat yang dimaksud adalah siji kang
dirohmat yakni, lafadz Syahadat itu sendiri.
Prosesi adat “Panjang Jimat” adalah
refleksi dari proses kelahiran Nabi Muhammad SAW dan merupakan acara puncak
dari serangkaian kegiatan Maulud Nabi Muhamad di Keraton Kasepuhan Cirebon.
“Panjang” berarti sederetan iring-iringan berbagai benda pusaka dalam prosesi
itu dan “Jimat” berarti “siji kang dirumat” atau satu yang dihormati yaitu
kalimat sahadat “La Illa ha Illahah” sehingga arti gabungan dua kata itu adalah
sederetan persiapan menyongsong kelahiran nabi yang teguh mengumandangkan
kalimat sahadat kepada umat di dunia. Pada umumnya masing-masing upacara
terdiri atas kombinasi berbagai macam unsur upacara seperti berkorban, berdo’a,
bersaji makan bersama, berprosesi, semadi, dan sebagainya. Urutannya telah
tertentu sebagai hasil ciptaan para pendahulunya yang telah menjadi tradisi.
Pengaruh
Khalifah Sholahuddin Al Ayubi seperti telah dijelaskan kemudian menyebar ke
seluruh dunia termasuk ke Kerajaan Cirebon dan Sultan Cirebon Syarif
Hidayatullah kemudian mengadopsikan acara maulud nabi itu dengan budaya Jawa
sehingga menjadi prosesi Panjang Jimat. Secara serentak, upacara pelal Panjang
Jimat di Cirebon diselenggarakan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari
Syarief Hidayatullah. Masing-masing di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman,
Keraton Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah
pendiri Kasultanan Cirebon atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati.
Ada
beberapa pengertian mengenai Panjang Jimat, yaitu :
a.
Panjang, artinya terus menerus diadakan, yakni satu kali setahun. Jimat,
maksudnya dipuja-puja (dipundi-pundi/dipusti-pusti) di dalam memperingati hari
lahir Nabi Besar Muhammad saw.
b.
Panjang Jimat, sebuah piring besar (berbentuk elips atau bundar) terbuat dari
kuningan atau porselin. Dan Panjang Jimat bagi Cirebon mempunyai sejarah khusus
yakni salah satu benda pusaka Kraton Cirebon ialah merupakan sebuah pemberian
dari Sang-hyang Bango ketika masa pengembangan dari Raden Walangsungsang
(Pangeran Cakrabuana), di dalam rangka mencari agama Nabi (agama islam). Maka
besar kemungkinan inilah sebabnya masyarakat Cirebon menyebut-nyebut
iring-iringan Panjang Jimat (piring panjang jimat di Kraton Kanoman dan pendil
jimat di Kraton Kasepuhan).
c.
Saat turunnya/keluarnya Panjang Jimat ini sebagai Penggambaran lahirnya sang
bayi, jadi sebenarnya kita harus mengerti bahwa pawai allegorie tadi memiliki
falsafah yang sangat tinggi, yang erat sekali hubungannya di kala itu dengan syi’ar
Islam.
C.
PELAKSANAAN DAN PERUBAHAN UPACARA PANJANG JIMAT
1. Pelaksanaan Upacara Panjang Jimat
Ritual-ritual
Panjang Jimat hampir sama dengan upacara yang lainnya, yang semuanya
mengukuhkan homogenitas model Jawa yang orisil. Maka pada saat itu tampaklah
raja melakukan miyos dalem (penampilan raja kehadapan rakyatnya). Kemampuan
raja mencapai kesatuan dimanfaatkan untuk mendengarkan keabsahan keraton. Pada
kegiatan itu raja menyampaikan berkahnya untuk kesejahteraan rakyatnya
Di
Keraton Kasepuhan Panjang Jimat diturunkan oleh petugas dan ahli agama di
lingkungan kerabat kesultanan Keraton kasepuhan, yang terdiri atas:
1)
Diadakan Susrana Tahap ini diadakan di gedung/bangsal dalem. Disinilah
disajikan Nasi Rosul sebanyak 7 golongan, untuk tiap-tiap golongan
ditumpangkan/ditempatkan di atas tasbih/piring besar. Petugas-petugasnya adalah
: Nyi Penghulu, Nyi Krum yang disaksikan oleh para Ratu Dalem. Di belakang
Bangsal Dalem yang disajikan air mawar, kembang goyah, “serbad boreh” (panem)
dan hidangan tumpeng 4 “pangsong”/”ancek”/”angsur”. Yang berisi kue-kue dan
tempat dong-dang yang berisis makanan, petugasnya adalah Nyi Kotif Agung, Nyi
Kaum dengan disaksikan oleh para Ratu/family kasultanan.
2)
Di Gedung Bangsal Prabayaksa yaitu sebelah utara bangsal dalem dan di bangsal
Pringgadani (sebelah utara bangsal Prabayaksa), diperuntukan bagi para undangan
di tengah ruangan dilowongkan untuk deretan upacara, terus dari Jinem ke Sri
Manganti.
Adapun
urutan-urutan dan atribut-atribut yang digunakan dalam upacara Panjang Jimat
ini adalah :
A.
Beberapa lilin dipasang di atas standartnya (dahulu pakai dlepak/dian)
B.
Dua buah Manggaran, dua buah Nagan dan dua buah Jantungan.
C.
Kembang Goyak (Kembang bentuk sumping) 4 (empat) kaki.
D.
Serbad dua buah guci dan dua puluh botol bir tengahan.
E.
Boreh/Parem.
F.
Tumpeng.
G.
Ancak Sanggar (panggung) 4 buah yang keluar dari pintu Bangsal Pringgandani.
H.
4 buah dongdang berisi masakan, menyusul belakangan, keluar pintu Barat
Bangsal
Pringgandani pula, ke teras Jinem.
Pada
puncak malam 12 Rabiul Awal, yang oleh masyarakat Cirebon disebut dengan malam
pelal inilah diadakan ritual seremonal Panjang Jimat dengan mengarak berbagai
macam barang yang sarat akan makna filosofis, diantaranya barisan orang yang
mengarak nasi tujuh rupa atau nasi jimat dari Bangsal Jinem yang merupakan
tempat sultan bertahta ke masjid atau mushala keraton, yang memiliki makna
filosofis sebagai hari kelahiran nabi yang suci yang dilambangkan melalui nasi
jimat ini. Nasi jimat sendiri konon berasal dari beras yang disisil (proses
mengupas beras dengan tangan dan mulut) selama setahun oleh abdi keraton perempuan
yang sepanjang hidupnya memutuskan untuk tidak pernah menikah atau disebut juga
dengan perawan sunti.
Nasi
Jimat itu diarak dengan pengawalan 200 barisan abdi dalem yang masing-masing
dari mereka membawa barang-barang yang memiliki simbol-simbol tertentu seperti
lilin yang bermakna sebagai penerang, kemudian nadaran, manggar, dan jantungan
yang merupakan simbol dari betapa agung dan besarnya orang yang dilahirkan pada
saat itu, yakni Nabi Muhammad SAW. selanjutnya, di belakang orang-orang yang
membawa jantungan dan sebagainya itu, menyusul barisan abdi dalem keraton yang
membawa air mawar dan kembang goyang yang melambangkan air ketuban dan ari-ari
sang jabang. Kemudian di barisan berikutnya, ada abdi dalem keraton yang
pembawa air serbat yang disimpan di 2 guci yang melambangkan darah saat bayi
dilahirkan. Kemudian 4 baki yang menjadi lambang 4 unsur yang ada dalam diri
manusia, yakni angin, tanah, api dan air.
Iring-iringan
ini yang berawal dari Bangsal Prabayaksa akan menuju satu tempat yakni Langgar
Agung di mana nantinya akan di sambut oleh pengawal pembawa obor yang yang bisa
dimaknai sebagai sosok Abu Thalib, sang paman nabi ketika beliau menyambut
kelahiran keponakannya lahir yang pada saatnya kemudian tumbuh menjadi manusia
agung pengemban amanat dari Tuhan untuk menyebarkan agama Islam.
Sesampainya
di sana langgar agung itu, nasi jimat tujuh rupa itu kemudian dibuka berikut
sajian makanan lain termasuk makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka.
Piring pusaka ini dikenal amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena
merupakan peninggalan Sunan Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di
Langgar Agung ini dilakukan shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga
tengah malam.
Pengajian
dipimpin imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu
makanan tadi disantan bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat
yang berjubel-jubel di luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar
menyentuh tangan PRA Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila berhasil
menyentuh calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam
kehidupannya. Tak heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal
keraton.
2.
Perubahan Upacara Panjang Jimat
Pelaksanaan
upacara Panjang Jimat sekarang mengalami perubahan atau pergeseran. Secara umum
perubahan pelaksanaan Panjang Jimat tersebut bukan terletak pada struktur
upacaranya tapi dalam bentuk permukaannya. Perubahan penyelenggaraan dalam
bentuk permukaannya banyak berubah dilakukan untuk mendukung program pemerintah
yakni pariwisata dan pembangunan. Sedangkan mengenai tujuan, kesakralan,
struktur secara intern masih tetap terjaga. Prosesi upacara masih lengkap
meskipun sedikit ada penyederhanaan.
Seperti
yang telah diketahui bahwa upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan sudah ada
sejak jaman dahulu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Cirebon.
Hal ini khususnya dikarenakan masyarakat masih memegang teguh adat istiadat
ataupun kebiasaan akan tradisi yang diwariskan turun temurun. Secara prinsip,
upacara panjang Jimat tetap dilakukan dari tahun ke tahun, namun dalam
pelaksanaannya lebih ditingkatkan yakni dilaksanakan dengan lebih besar,
meriah, diisi dengan program pembangunan dan dikaitkan dengan pariwisata.
Terdapat suatu indikasi bahwa hal ini disebabkan karena sudah memasuki jaman
globalisasi yang serba modern.
Akibat
dari globalisasi tersebut menyebabkan upacara Panjang Jimat yang merupakan
salah satu adat atau kultur Keraton kasepuhan juga mengalami perubahan. Hal ini
sebenarnya tidak menjadi masalah karena meskipun mengalami perubahan tapi tetap
mempunyai struktur, tujuan, esensi yang sama dengan pelaksanaan grebeg maulud
dahulu. Nilai kesakralan dan getaran emosi masyarakat masih tetap ada.
Selanjutnya
jika dilihat perubahan dalam pelaksanaan upacara Panjang Jimat saat ini
terletak pada bentuk luarnya yaitu untuk mendukung program pariwisata dan
pembangunan seperti diketahui bahwa sebelum upacara dimulai dengan pesta rakyat
menyongsong perayaan Panjang jimat, yakni berupa keramaian untuk hiburan
masyarakat. Apabila jaman dahulu dalam Panjang Jimat ini tidak ada keramaian
berupa pasar malam dan para pedagang, maka sekarang mereka ada dan sangat ramai
sekali. Pekan raya atau pasar malam yang dipergunakan untuk kepentingan
pariwisata dan pembangunan, antara lain:
1.
Sebagai arena rekreasi bagi masyarakat misalnya; sirkus, arena permainan
anak-anak, panggung kesenian (musik) dan lain-lain
2.
Sebagai forum informasi dan komunikasi tentang kebijaksanaan yang dapat
diperoleh dari eksposisi atau pameran dari instansi pemerintah
3.
Sebagai sarana melestarikan kesenian kebudayaan daerah. Untuk itu disediakan
panggung kesenian daerah, pentas kesenian daerah dan lainnya.
Pasar
malam tersebut dipakai sebagai ajang berjualan bagi para pedagang seperti
penjual makanan, minuman, mainan anak-anak, pakaian, sepatu, bunga dan lainya.
Akibat adanya pasar malam dalam perayaan sekaten membuat susana menjadi meriah
dan ramai. Disamping itu dalam kegiatan pasar malam tersebut juga diadakan
kegiatan keagamaan khususnya agama islam. Kegiatan keagamaan itu antara lain
santapan rohani melalui menara siaran, pengajian umum, pameran keagamaan.
Pentas seni keagamaan, tabligh di masjid besar dan lainnya.
Hal
utama yang paling terlihat adalah maksud dan tujuan masyarakat khususnya
generasi muda yang akan datang ke acara Panjang Jimat ini. Pada masa Syarif
Hidayatullah ketika Panjang Jimat ini diadakan masyarakat memang benar-benar
khusyuk mengikuti ritual Panjang Jimat ini dan mendengarkan ilmu agama dari
tabligh yang diadakan oleh ulama. Sekarang keadaannya bergeser, mereka malah
lebih bertujuan untuk mengunjungi pasar malam khususnya anak-anak remaja.
Memang masih banyak golongan tua yang benar-benar berniat untuk mengikuti
Panjang Jimat ini secara keseluruhan, namun kebanyakan dari generasi mudanya
hanya ingin datang ke pasar malamnya saja.
Upacara
Panjang Jimat dalam bentuk luarnya telah mengalami pergeseran khususnya dari
kalangan anak muda yang kurang memperhatikan kesakralan dari makna Panjang
Jimat itu sendiri. Demikian adalah beberapa perubahan yang terjadi pada
pelaksanaan upacara Panjang Jimat saat ini. Tampak dalam perubahannya bukan
yang menyangkut strukur tapi yang mendukung pariwisata dan pembangunan secara
prinsipil kesakralan, tujuan, nilai serta struktur dalam upacara grebeg tidak
mengalami perubahan.
Meskipun
dalam prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal tersebut disebabkan karena
perubahan jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis, sehingga dalam pelaksanaan
upacara ada sedikit perkembangan bila dibandingkan dengan dahulu.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Upacara
Maulid Nabi adalah suatu bentuk kebudayaan tradisional. Maulid Nabi merupakan
suatu salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Awal mula dari Maulid
Nabi ini, pertama kali oleh penguasa bani Fatimah yang pertama menetap di Mesir
kemudian sampai ke Indonesia atas jasa Sultan Salahuddin Al Ayyubi Khalifah
dari dinasti Abbasiah, di Jawa tradisi Maulid Nabi telah ada sejak zaman
walisongo sedangkan di Cirebon sendiri Maulid Nabi setelah Sultan Syarief
Hidayatullah berkuasa. Proses dari Maulid Nabi ini sama seperti upacara
lainnya. Dalam proses Maulid Nabi ini terdapat beberapa lilin yang dipasang di
atas standar, manggara, nagam, jantungan Tumpeng yang mendukung upacara Maulid
Nabi.
Dengan
berkembangnya jaman yang semakin modern dan mengarah ke globalisasi, maka
Maulid Nabi juga mengalami perubahan. Di aspek sosial Maulid Nabi sekarang
lebih mendukung kepada pariwisata dan pembangunan namun secara prinsipil
kesakralan, tujuan, nilai serta struktur dalam upacara grebeg tidak mengalami
perubahan. Meskipun dalam prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal tersebut
disebabkan karena perubahan jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis, sehingga
dalam pelaksanaan upacara ada sedikit perkembangan bila dibandingkan dengan
dahulu. Di aspek ekonomi Maulud Nabi yang dahulu merupakan sebuah upacara
peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat
ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya kini
dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat mencari rezeki.
B.
SARAN
Sebagai
masyarakat yang berbudaya dan menghormati perbedaan kebudayaan disekitar kita,
sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan budaya-budaya di sekitar kita.
Terutama tradisi di wilayah kota cirebon khususnya tradisi panjang jimat yang
sampai saat ini masih terjaga keasliannya sebagai salah satu budaya Indonesia
yang patut dibanggakan.
DAFTAR
PUSTAKA
http://silihasih.blog.com/sejarah-cirebon/
http://portalcirebon.blogspot.co.id/2011/02/tradisi-panjang-jimat-keraton-cirebon.html
Sulendraningrat,
P.S.1985.Sejarah Cirebon.Jakarta:PN Balai Pustaka
