Laman

Kamis, 28 April 2016

KESADARAN SEJARAH

Kesadaran sejarah
Pengantar ilmu sejarah
Oleh: Kuntowijoyo
Pendidikan dan sejarah atau sejarah dan pendidikan tidak dapat dilepaskan satu sama lain karena kedua – duanya mempunyai nilai guna ( use value) intrinsik yang sama. Pendidikan sejarah berguna bagi manusia agar mampu belajar dari pengalaman, dari masa lalu dimana kebijakan dan kearifan masa kini terbentuk.
 Sedangkan dari sejarah pendidikan manusia memperoleh guna manfaat belajar tentang bagaimana memaknai pendidikan di masa kini sebagai proses akumulasi pendidikan di masa lalu, dan mengambil keputusan dalam upaya menentukan kebijakan pendidikan yang lebih baik di masa kini dan bagi kebaikan masa depan.
 Pengajaran sejarah pendidikan dan penelitian serta penulisan sejarah pendidikan di Indonesia masih belum banyak mendapat perhatian yang serius, tidak seperti sejarah politik atau sejarah sosial yang pada beberapa dasawarsa terakhir ini mendapat perhatian besar dari kalangan sejarawan Indonesia.
 Demikian pula historiografi pendidikan di Indonesia nasibnya tidak jauh berbeda. Para sejarawan dewasa ini masih lebih tertarik kepada sejarah politik, sejarah ekonomi, sejarah agraria, sejarah petani dan sejarah kawasan.
Sehingga tidak mengherankan buku – buku yang sering mendapat perhatian para pakar masyarakatpun lebih banyak yang berkaitan dengan aspek ekonomi dan politik, sekalipun pengalaman sejarah menunjukan bahwa kemampuan masyarakat untuk mengembangkan perekonomian dan berpartisipasi dalam kehidupan politik bangsanya sangat tergantung kepada tingkat pendidikan yang dimiliki.



Kesadaran sejarah
Metodologi sejarah
Oleh: Helius Sjamsuddin

Sejarah merupakan satu cabang ilmu kemanusiaan yang tidak asing lagi pada masa ini. Walaupun kepentingan subjek sejarah sering dipertikaikan, namun berbagai usaha telah dilakukan untuk menjadikan sejarah sebagai suatu bidang ilmu yang sempurna dengan bidang –bidang ilmu lainnya.
Interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi melalui penyampaian atau gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat menggunakan simbol-simbol yang sama, baik secara simultan atau berurutan, bahkan menurut definisi penafsiran hanya digunakan sebagai suatu metode jika dibutuhkan.
Dalam penulisan sejarah, digunakan secara bersamaan tiga bentuk teknis dasar tulis menulis yaitu deskripsi, narasi, dan analis. Ketika sejarawan menulis sebenarnya merupakan keinginan untuk menjelaskan eksplanasi sejarah yang diantaranya menggerakan yakni meencipta ulang dan menafsirkan.
Sedangkan tujuan penafsiran sendiri biasanya adalah untuk meningkatkan pengertian, tapi terkadang biasanya, seperti mempropaganda atau mencuci otak kita tujuannya untuk mengacaukan dan membuat kita bingung.
Bahkan ketika para sejarawan menulis, disadari atau tidak dinyatakan secara eksplisit atau implisif, mereka akan berpegang pada salah satu atau kombinasi beberapa filsafat sejarah tertentu yang menjadi dasar penafsirannya.
Bagi sejarawan yang enggan menggunakan istilah filsafat sejarah mungkin akan menyebut sebagai acuan kerja, adapun filsafat sejarah bertujuan untuk memberikan arti atau makna kepada sejarah kegiatan manusia, bahkan gerak-gerak manusia pada manusia pada masa lalu seperti bagaimana timbul dan berkembangnya suatu berbangsa dan peradaban serta bagaimana pasang surut sampai pada keruntuhan suatu bangsa dan peradabannya.
Kesadaran sejarah
Majalah prisma
Oleh: Soedjatmoko
pengajaran sejarah tidak semata-mata berfungsi untuk memberikan pengetahuan sejarah sebagai kumpulan informasi fakta sejarah tetapi juga bertujuan menyadarkan anak didik atau membangkitkan kesadaran sejarahnya.
Untuk itu nilai-nilai sejarah harus dapat tercermin dalam pola prilaku nyata peserta didik. Dengan melihat pola prilaku yang tampak, dapat mengetahui kondisi kejiwaan berada pada tingkat penghayatan pada makna dan hakekat sejarah pada masa kini dan masa mendatang. Dengan demikian baru dapat diketahui pembelajaran sejarah terlah berfungsi dalam proses pembentukan sikap.
Ramai yang menjangkakan ICT akan merevolusi dunia pada abad ke-21 melalui perubahan dalam cara kerja, hubungan secara terus diantara pembuat dan pengguna, dan akses kepada sumber maklumat yang begitu banyak. Aspek pendidikan turut terdedah denganperubahan apabila pelajar boleh mengakses sumber maklumat dengan mudah. Mata pelajaran sejarah turut mengalami perubahan denganpengenalan ICT dalam pendidikan.
 Guru sejarah yang peka kepada perubahan akan menggalakkan pelajar membina kemahiran yang sesuai dengan keperluan dunia ICT. Antara beberapa perkara yang perlu dipertimbangkan oleh guru sejarah

 



Kesadaran sejarah
Sejarawan
Oleh: Sartono kartodirjo
Sejarawan adalah wisatawan profesional dalam dunia lampau. Mereka mempunyai kekhususan dalam suatu daerah tertentu, seperti hal nya dunia lampau Indonesia, atau daerah bagiannya misalkan Aceh, Ambon, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Bali dan sebagainya.
Ada pun yang secara khusus menguasai eropa,inggris, amerika dan sebagainya, dari zaman kuno pertengahan, atau modern. Sejarawan dapat menunjukan pola-la perkembangan, konteks dan kondisi-kondisi peristiwa serta akibatnya, yang kesemuanya sukar diketahui dan dipahami oleh semua orang yang tidak mengalami sendiri peristiwa-peristiwa itu.
Untuk generasi sekarang yang hidup dalam abad-20 pada planet ini, sejarawan dapat bertindak sebagai duta dari masa lampau tidak hanya memberikan informasi tentang negeri zaman tertentu, tetapi juga kondisi dan setuasinya, sistem ekonomi, sosial, dan politiknya. Pendeknya kehidupan masyarakat dalam pelbagai aspek.
Dalam pelbagai pendekatan dalam metode sejarawan menjalankan penetrasi dalam pelbagai lapangan. Hasilnya kita dapat memperdalam pengertian di bidang politik ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Sebaliknya ahli-ahli dalam bidang-bidang tersebut sering kali juga perlu meninjau kedaerah masa lampau, yang semuanya bermanfaat untuk perbendaharaan pengetahuan pada umumnya.





Kesadaran sejarah
Membenahi pendidikan sejarah Indonesia
Oleh: Sam Winerburg
Untuk mengetahui sejauh mana dalam mempelajari pada pendidikan sejarah di Indonesia kita perlu menengok kondisi pendidikan sejarah di tanah air. Karena di ajarkan hanya menghapal nama dan tahun, maka kemampuan murid hanya sebatas itu. Bahkan karena tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh, tanggal tanggal itu pun dilupakan karena tidak dilihat konteks peristiwa itu.
Ketika dalam pengajaran dalam sejarah perlawanan terhadap penjajah belanda, guru bertanya tentang kapan perang dipenogoro berakhir. Bahkan kemampuan guru juga dapat diragukan, mereka lebih suka membuat ujian dengan menggunakan soal multi choice ketimbang menyuruh siswa mwmbuat karya tulis.
Selain dari masalah guru dan murid, persoalan yang lain menyangkut bahan pengajran. Pengajaran sejarah diuraikan dalam bentuk butir-butir kurikulum. Penjelasan standar kompetisi itu terdapat buku teks yang selama ini dibuat berdasarkan buku standart yaitu SNI.



Penulisan buku sejarah Nasional Indonesia berawal dari pembicaraan di seminar sejarah nasioanal II. Sebagai tindak lanjut dari seminar itu. Pemerintah membentuk panitia penyusunan buku standart sejarah nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar