Laman

Selasa, 12 April 2016

posisi asia tenggara dalam perang dingin

MAKALAH POSISI ASIA TENGGARA DALAM PERANG DINGIN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Asia Tenggara
Dosen Pengampu : Dr. Rudy Gunawan, M.Pd





DISUSUN OLEH :

  1. MONTHIAN NOTHONG     
  2. WIRNY NURJANAH          
  3. FAJRI ARYAWAN              





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah sejarah asia tenggara. Adapun makalah sejarah asia tenggara tentang posisi asia tenggara dalam perang dingin ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah posisi asia tenggara dalam perang dingin ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah sejarah asia tenggara tentang posisi asia tenggara dalam perang dingin dan sejarah nya ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.









                                                                                               
Jakarta,  Desember  2015



Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

Istilah “Perang Dingin” diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antarra Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perang Dingin (1947-1991) adalah sebutan bagi sebuah periode dimana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947-1991. Perang Dingin terjadi setelah Perang Dunia II. Hakikat perang dingin itu adalah pertentangan antara dunia bebas dengan Uni Soviet dalam lapangan politik, ekonomi, militer dan propaganda.
Dalam lapangan militer kedua pihak membangun persekutuan yang kuat, Amerika membentuk NATO dan Uni Soviet membangun Pakta Warsawa. Dalam politik terdapat persekutuan dan negara satelit. Rusia menguasai Eropa Timur, terbaginya Jerman menjadi Jerman Timur dan Jerman Barat serta Berlin Barat dan Berlin Timur. Yugoslavia dan Jepang mengikuti politik Negara Barat. China Komunis dekat dengan Moskow.
Mengingat kegiatan politik di atas maka Truman mengeluarkan doktrin (Truman Doctrin) bahwa Amerika akan membantu Negara Eropa dalam bidang ekonomi, militer. Adanya rencana Marshall (Marshall Plan) yang menetapkan kerjasama USA dengan Negara Eropa dalam bidang pembangunan, membantu Eropa untuk membangun ekonominya kembali.
Perang Dingin antara Amerika Serikat (USA) dan sekutu-sekutunya di satu pihak dan Uni Soviet (USSR) serta kawan-kawannya di pihak lain berawal dari masalah penyelesaian Perang Dunia II (PD II). Persekutuan USA dan USSR ditandai dengan perbedaan ideologi yang kontras antara kapitalis-liberalis dan komunis. Keduanya berseteru setelah perang melawan Hitler, Musolini, dan kawan-kawan berakhir.


RUMUSAN MASALAH
1.    Apa itu perang dingin
2.    Negara-negara yang terlibat perang dingin
3.    Penyebab terjadinya perang dingin
4.    Bagaimana posisi asia tenggara dalam perang dingin
TUJUAN PENULISAN
1.    Untuk mengetahui pengertian dari perang dingin
2.    Mengetahui Negara-negara mana saja yang terlibat dalam perang dingin
3.    Mengetahui apa saja penyebab dari terjadinya perang dingin
4.    Untuk mengetahui bagaimana posisi asia tenggara dalam perang dingin
















                                                            BAB II
                                                PEMBAHASAN
A.   MASUKNYA PENGARUH BLOK BARAT DAN BLOK TIMUR

Blok Barat atau Blok Kapitalis selama Perang Dingin merujuk pada kekuatan yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan NATO melawan Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Pihak yang terakhir disebutkan disebut sebagai Blok Timur, sebuah istilah yang lebih umum dalam bahasa Inggris daripada Blok Barat, karena pemerintah dan pers Blok Barat cenderung menyebut dirinya sebagai “Dunia Bebas”. Menurut Matlof, “Perang Dunia II merupakan perubahan mendasar dalam kesimbangan kekuatan internasional, ketika sebuah strategi koalisi demi kemenangan tidak member solusi asli atau besar apapun”. Sebagian besar Eropa telah dibagi oleh pendudukan Nazi dan kedua kekuatan super ini bertugas untuk menciptakan pemerintahan-pemerintahan baru di Negara-negara Eropa.
            Menurut Kissinger, “Ketegangan dengan dunia luar melekat secara alami dengan filosofi komunis dan, di atas segalanya, system Soviet dijalankan secara domestik. Sehingga permusuhan Uni Soviet dengan dunia luar adalah upaya untuk mendorong hubungan internasional ke dalam ritme dalam negerinya”. Hubungan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat terus tegang dan Truman merasa ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah kontes antara baik dan buruk, tidak ada hubungannya dengan lingkup pengaruh politik.
            NATO berdiri “untuk mengkoordinasikan pertahanan militer Negara-negara anggota terhadap kemungkinan agresi Soviet.” PAKTA WARSAWA dibentuk sebagai respon langsung terhadap NATO. Pakta ini berdiri untuk melindungi Negara-negara satelit Soviet yang dibentuk setelah Perang Dunia II, dan menjamin bahwa tidak ada musuh yang menyerang Negara-negara satelit tersebut. Menurut Kissinger, meski Uni Soviet mengikatkan dominasinya di Eropa Timur karena Pakta Warsawa, aliansi nominal ini jelas-jelas dipegang sebagai koersi.




B.   KONFLIK-KONFLIK DI NEGARA KAWASAN ASIA TENGGARA SEBAGI DAMPAK PERANG DINGIN

Jatuhnya Vietnam Utara ke tangan komunis dalam tahun 1954 ternyata telah merisaukan Amerika serikat sebagai pelopor Blok Barat, sebab kekalahan pihak Barat itu akan membawa akibat berjatuhnya satu persatu Negara-negara di kawasan Asia Tenggara ke tangan komunis, bagaikan serangkaian kartu domino. Dari situ muncul dan berkembang teori domino, yaitu bahwa Negara-negara Asia Tenggara akan jatuh satu persatu ke tangan komunis seperti kartu domino.
Dalam rangka pembendungan komunis di Asia Tenggara, maka pada tanggal 8 September 1954 dibentuklah SEATO (Southeast Asia Treaty Organization) di Manila. Dengan demikian SEATO menjadi organisasi regional yang pertama di Asia Tenggara. Adapun anggotanya adalah Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina dan Muangthai. Karena hanya dua Negara saja yang berasal dari Asia Tenggara, maka SEATO lemah kredibilitasnya.   
Banyak Negara-negara Asia Tenggara yang tidak mau bergabug dengan ASA (termasuk Indonesia) dikarenakan bahwa ASA dianggap sebagai antek SEATO dan imprealis Amerika Serikat. Tetapi munculnya perselisihan politik antara Malaysia dan Filiphina tentang Sabah (Kalimantan Utara) yang dimasukkan ke dalam federasi Malaysia dalam bulan September 1963 telah melumpuhkan kegiatan organisasi kerjasama regional tersebut. Setelah ASA menjadi beku karena masalah Sabah, Filipina mengembangkan ide untuk membentuk semacam Konfederasi Melayu Raya (Greater Malaya Confederation).
Sewaktu Malaysia diresmikan pada tanggal 16 September 1963 yang mencakup Sabah, Serawak, Singapura di samping Malaya kedalamnya, Indonesia meningkatkan konfrontasi terhadap federasi baru itu. Dengan berlangsungnya konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia, mala Indonesia membentuk poros Jakarta-Phnom Penh-Beijing, dan keluarnya Indonesia dari PBB. Sulit untuk disangkal bahwa hal-hal seperti itu telah merusak citra politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
Ketika politik luar negeri Indonesia mengalami krisis kredibilitas yang berat di luar negeri, dan juga di beberapa kalangan di dalam negeri, terutama kekuatan-kekuatan non atau anti komunis seperti di Angkatan Darat dan golongan-golongan agama, meletuslah peristiwa G30S/PKI. Keberhasilan penumpasan G30S/PKI menjungkirbalikkan keinginan untuk membentuk Negara komunis di Indonesia. Lagipula penumpasan tersebut diikuti dengan pelarangan PKI serta ideology Marxisme/Komunisme serta jatuhnya kekuasaan Presiden Soekarno.
Pemerintah Orde Baru berangsur-angsur mengembalikan citra politik luar negeri yang bebas aktif. Konfrontasi dengan Malaysia diakhiri dan dalam waktu yang relative singkat keanggotaan Indonesia di PBB dicairkan kembali. Serangkaian dengan itu Indonesia memainkan peranan aktif dan menentukan dalam pembentukan organisasi regional di Asia Tenggara.


C.   KETERLIBATAN AS, USSR, CINA PADA PERANG DINGIN DAN PENGARUHNYA DALAM  ASIA TENGGARA

Dengan berakhirnya Perang Dunia II di tahun 1945 membuat lahirnya  dua negara besar ini menjadi  negara  yang mendominasi  sistem  internasional  yakni  AS   dan  USSR.  Namun hubungan diantara kedua negara mulai menunjukkan ketegangan yang didasari oleh kedua negara  berbeda  dalam  hal  paham  dan ideologinya, diman AS dengan liberalismenya dan USSR   dengan  kominsimenya.  Sehingga   keduanya   mencoba    untuk   berlomba-lomba memperluas pengaruhnya ke penjuru dunia, selain itu keduanya memiliki kepentingan yang sama   untuk   memiliki   pengaruh  di Asia  dan  perebutan  wilayah Jerman. Asia Tenggara sendiri    dipilih  karena  merupakan   salah   satu  kawasan   yang  strategis   di dunia,  tidak mengherankan  bila  AS  USSR   bersaing   untuk   memperebutkan   kawasan   ini   dengan menyebarkan   ideologi  pada  sepuluh   negara  yang berada di kawasan ini yakni Kamboja, Brunei Darussalam, Timor Timur, Indonesia, Laos, Myanmar, Filiphina, Singapura, Thailand, serta   Vietnam   (Cipto, 2007). Tentunya   dengan   terjadinya Perang Dingin yang memikliki pengaruhnya  hingga  ke  Asia  Tenggara  telah  membawa  segala aspek  perubahan sosial hingga kondisi perpolitikan yang terjadi di antar negara di kawasan ini.
            Situasi yang terjadi di  Asia Tenggaradimulai dengan besarnya kekuatan dua Negara Adidaya  tersebut  menjadikan   Vietnam  masuk  ke  dlam  ‘korban’ peperangan dari Perang Dingin  hingga   secara  kontan  juga  turun menyeret negara-negara lain yang berada dalam kawasan  ini. Weatherbee (2005) juga menyatakan bahwa “From the outset of the Cold War, the focus  of  containment   in   Southeast   Asia   was  on   Vietnam”     (Weatherbee, 2005). Disamping  itu   pada   tahun  1952   saat  terjadi   Perang   Indochina I ,   efek-efek    paham komunisme   telah   masuk   ke   Vietnam Utara, Hal tersebut menjadi kekhawatiran AS akan semakin   menyebar   luasnya   paham   komunsime  dengan terjadinya efek domino. Lalu di tahun   1954,  saat  Perancis   menyatakan  mundur dari Vietnam dan kembali terjadi perang Indochina II  yang  resmi  dimulau  tahuin  1961.  Perang Indochina kedua merupakan wujud dari  proxy  war  dimana   peperangan  antara  Vietnam  Utara   yang   membawa   pengaruh komunis, dan Vietnam Selatan yang terpengaruh oleh  Amerika Serikat (Cipto, 2007). Selain itu    juga   situasi   lainnya    yang    terjadi     dengan     Amerika    mengeluarkan   sejumlah kebijakan  ontainment  untuk  membendung  pengaruh  komunisme USSR di Asia Tenggara. AS  kemudian   merealisasikan   misi   dari  containment policy   yakni  dengan terbentuknya SEATO di tahun 1954 merupakan sebuah aliansi pertahanan yang dibangun antara Amerika Serikat, Australia, New Zealand, Perancis,  Inggris, Thailand, Filipina,  dan Pakistan. SEATO pada  dasarnya  berbeda dengan NATO dan SEATO juga tidak berbasis militer, namun lebih kepada  aliansi politik yang memberikan kerangka politik multilateral strategi pertahanan dari ancaman komunisme (Weatherbee, 2005).
            Pada   dasarnya  ideologi  yang awalnya mulai berkembang di Asia Tenggara adalah komunisme,  dimana   kawasan  Asia  tenggara  telah mengenal ideologi ini sebelum Perang Dingin  berlangsung.  Disebutkan  oleh   Lau (2012)  bahwa  sejak  tahun  1920an,     paham komunisme    telah    menarik   perhatian  sekelompok   golongan   di   Asia  Tenggara  yang menginginkan  adanya  revolusi  anti  imperialsme  Barat  (Lau, 2012).   Maka dari itu paham komunisme dari  Uni Soviet dengan gampang menyebar pengaruhnya di kawasan Asia yang terlihat  dengan  semakin  bayak  negara  yang  mengaplikasikan  komunisme  di Negaranya (Weatherbee, 2005).  Uni  Soviet  dalam kepentingannya mencoba menyebarkan pahamnya ke  Cina  dan  komunisme  di  Cina  menjadi sangat berjaya. Kuatnya mazhab komunisme di Cina   digunakan  USSR  untuk  mencoba  semakin   mengembangkan  komunisme  di  Asia Tenggara   melalui   Vietnam.  Di  lain  sisi  kepentingan yang dibawa Cina di Asia Tenggara  dalam hal mengembangkan komunismenya karena ingin mengembalikan daerah kekuasaan Cina  di  zaman  kuno  dan  juga tentunya dari segi geografis Cina melihat kekayaan alam di Asia  Tenggara  guna  memperkuat  posisi  ekonominya dalam dunia internasional. Untuk itu dalam Dekade pertama dari China sampai 1958 ditandai dengan kerjasama Sino-Soviet dan upaya  untuk  menyeimbangkan  kekuatan  Amerika Serikat (Lau, 2012). Yang dilakukan Uni Soviet     dan      Cina    tentu    merupakan   suatu   ancaman  bagi AS. Untuk  itu  maka  AS menerapkan    containment  policy  dan  juga  menerapkan  strategi  mutual  security    untuk membendung   pengaruh komunis di seluruh dunia, dengan focus containment policy adalah Vietnam   karena   Vietnam  menjadi  negara  pertama  yang  rentan  membawa efek domino komunisme di wilayah Asia Tenggara.
Lebih   lanjut  lagi  dalam  menyaingi  USS AS juga menawarkan kerjasama yang  lebih  luas terutama   dibidang   ekonomi  dan  politik  demi   meningkatkan   pembangunan  nasional di negara-negara  Asia Tenggara (Weatherbee, 2005: 57). Adapun kepentingan Amerika untuk membendung  pengaruh  komunis  di  kawasan  Asia  Tenggara  salah satunya terlihat pada upaya  Amerika   dalam   membantu  Indonesia  untuk  diakui  sebagai negara merdeka oleh Belanda   pada  1949  (Lau, 2012). Namun  upaya tersebut gagal karena presiden Soekarno anti  terhadap  imperialisme,  sehingga  hal  tersebut membuat Indonesia lebih dekat kepada Uni Soviet Hal itu dimanfaatkan Uni Soviet dengan memberikan bantuan terhadap Indonesia dalam kasus pembebasan Irian Barat.
            Selain  itu  juga  kepentingan  AS  dan  USSR  sama-sama  terlihat  dengan  memiliki pengaruh yang  sangat  kuat  di  Vietnam.  Konflik  pun  tidak dapat dihindari antara Vietnam Selatan  dan  Vitnam Utara, namun ternyata Vietnam  Utara yang keluar sebagai pemenang. Sejak tahun 1965 saat Amerika mengirim banyak tentaranya untuk melawan Vietnam Utara. Akibat  terlalu  banyaknya  korban  dan  pengeluaran  Amerika  dalam  perang  Vietnam   ini, menimbulkan  banyak  protes  dari  kalangan  masyarakat  Amerika  dan  tentunya  juga hak tersebut  telah memberikan keuntungan bagi US. Hingga pada tahun 1972, Amerika menarik pasukannya  dari  Vietnam  dan  pada  jauhnya Vietnam Selatan ketangan komunis Vietnam Utara.   Hingga   sejak   tahun  1975  Amerika  mengurangi  pengaruhnya  di  kawasan  Asia Tenggara (Cipto, 2007:38).
Perang  Dingin  ini juga telah menghasilkan tindakan-tindakan tersendiri dari masing-masing negara  seperti  contohnya  Laos, Cambodia  dan  Vietnam  yang  memilih  mengambil  jalan revolusi  komunis,   sedangkan  Filipina  dan  Thailand  lebih memilih berpihak pada Amerika Serikat  dan  juga   negara-negara  Asia  Tenggara  lainnya  memilih  aliansi  mereka  sendiri dengan  negara-negara   barat. Tindakan   dari   masing-masing  negara di kawasan ini  juga terlihat  ketika  negara-negara  yang  baru  mengalami  dekolonialisasi berusaha mengambil jalan  tengah   untuk   tidak   memihak   pihak   manapun,   yang   direpresentasikan  dengan dibentuknya   Gerakan  Non-Blok  dan Konferensi  Bandung 1955  untuk mencegah  adanya pencapaian  kepentingan  di Asis tenggara  oleh  negara   super power dan mecegah segala bentuk  imperialisme sehingga  terciptanya  suatu  perdamaian  dunia.
Dengan melihat bahwa  dua  superpowers ini telah membawa dampak buruk bagi stabilitas negara-negara di Asia  Tenggara,  maka  diperlukan   suatu   organisasi    yang    dapat   wadah   konvergensi kepentingan   dan   kerjasama   yang   dapat   menghadapi   berbagai  ancaman serta  dapat mmeperkuat kerjasama di bidang ekonomi, administrasi, pengetahuan, perdamaian, budaya dan  politik  di  kawasan Asia  Tenggara (Weatherbee, 2005). Yakni  dengan salah   satunya mendirikan  sebuah organisasi regional yang disebut sebagai ASEAN pada 8 Agustus 1967. Adapun   tindakan   yang   diambil   dari   negara-negara   yang   tergabung dalam   ASEAN berusaha  untuk  menjaga  independensi mereka dan mengahalau komunisme untuk masuk ke  wilayah  Asia   Tenggara,  dalam  prosesnya  AS sendiri sebagai salah satu negara yang berperan   besar   dalam   perang   dingin   mampu  memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh  ASEAN,  sehingga  dari situ kerja sama AS dan ASEAN mulai terjalin pada tahun 1977 ASEAN juga  melakukan  kerjasama  baik  dengan, Cina, Rusia, Jepang, dan negara-negara besar lainnya sebagai kekuatan besar di Asia Tenggara.







BAB III
KESIMPULAN
Efek Perang Dingin dari AS dan USSR yang  telah  meluas hingga ke daratan Asia, membawa dampak besar bagi negara-negara di kawasan   Asia  Tenggara, terutama   bagi  Vietnam  yang dapat dikatakan sebagai “korban” dari proxy war yang  dijalankan  oleh  AS  dan USSR. Namun disisi lain Perang Dingin telah menciptakan  solidaritas   dan    keinginan  bagi  negara-negara  di   Asia   Tenggara   untuk menyatukan   kepentingannya   ke   dalam   sebuah   organisasi   regional  yang stabil, salah satunya adalah pembentukan ASEAN.
Dari perang dingin ini telah mengajarkan kita sebagai generasi  selanjutnya  bahwa ideologi, kepentingan dan kekuatan yang dimiliki suatu negara dapat  mempengaruhi  jalannya  dinamika  hubungan  antar negara di dunia. Dan juga dapat bahkan  memicu perubahan besar – besaran di dalam suatu kawasan. Sedangkan bagi Asia Tenggara   sendiri   berakhirnya   perang   dingin ini juga telah untuk memperluas jangkauan kerjasamanya dengan menggandeng negara-negara besar di luar Asia Tenggara.












DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Rudy (2013). Sejarah Asia Tenggara. Bandung: Alfabeta
Hamidi, Rasyid dan Sugeng Riadi (1992). Sejarah Eropa Terbaru. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar