MAKALAH POSISI ASIA TENGGARA DALAM PERANG
DINGIN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Asia Tenggara
Dosen Pengampu : Dr. Rudy Gunawan, M.Pd
DISUSUN
OLEH :
- MONTHIAN NOTHONG
- WIRNY NURJANAH
- FAJRI ARYAWAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih
lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah sejarah asia tenggara. Adapun makalah
sejarah asia tenggara tentang posisi asia tenggara dalam perang dingin ini
telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak
lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar
sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi
lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka
selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami
sehingga kami dapat memperbaiki makalah posisi asia tenggara dalam perang
dingin ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah sejarah
asia tenggara tentang
posisi asia tenggara dalam perang dingin dan sejarah
nya ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya
sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
Jakarta, Desember 2015
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Istilah
“Perang Dingin” diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter
Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di
antarra Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perang Dingin (1947-1991) adalah
sebutan bagi sebuah periode dimana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi
antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet
(beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947-1991.
Perang Dingin terjadi setelah Perang Dunia II. Hakikat perang dingin itu adalah
pertentangan antara dunia bebas dengan Uni Soviet dalam lapangan politik, ekonomi,
militer dan propaganda.
Dalam
lapangan militer kedua pihak membangun persekutuan yang kuat, Amerika membentuk
NATO dan Uni Soviet membangun Pakta Warsawa. Dalam politik terdapat
persekutuan dan negara satelit. Rusia menguasai Eropa Timur, terbaginya Jerman
menjadi Jerman Timur dan Jerman Barat serta Berlin Barat dan Berlin Timur.
Yugoslavia dan Jepang mengikuti politik Negara Barat. China Komunis dekat
dengan Moskow.
Mengingat
kegiatan politik di atas maka Truman mengeluarkan doktrin (Truman Doctrin)
bahwa Amerika akan membantu Negara Eropa dalam bidang ekonomi, militer. Adanya
rencana Marshall (Marshall Plan) yang menetapkan kerjasama USA dengan Negara
Eropa dalam bidang pembangunan, membantu Eropa untuk membangun ekonominya
kembali.
Perang
Dingin antara Amerika Serikat (USA) dan sekutu-sekutunya di satu pihak dan Uni
Soviet (USSR) serta kawan-kawannya di pihak lain berawal dari masalah
penyelesaian Perang Dunia II (PD II). Persekutuan USA dan USSR ditandai dengan
perbedaan ideologi yang kontras antara kapitalis-liberalis dan komunis.
Keduanya berseteru setelah perang melawan Hitler, Musolini, dan kawan-kawan
berakhir.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa
itu perang dingin
2. Negara-negara
yang terlibat perang dingin
3. Penyebab
terjadinya perang dingin
4. Bagaimana
posisi asia tenggara dalam perang dingin
TUJUAN PENULISAN
1. Untuk
mengetahui pengertian dari perang dingin
2. Mengetahui
Negara-negara mana saja yang terlibat dalam perang dingin
3. Mengetahui
apa saja penyebab dari terjadinya perang dingin
4. Untuk
mengetahui bagaimana posisi asia tenggara dalam perang dingin
BAB II
PEMBAHASAN
A.
MASUKNYA
PENGARUH BLOK BARAT DAN BLOK TIMUR
Blok
Barat atau Blok Kapitalis selama Perang Dingin merujuk pada kekuatan yang
bersekutu dengan Amerika Serikat dan NATO melawan Uni Soviet dan Pakta Warsawa.
Pihak yang terakhir disebutkan disebut sebagai Blok Timur, sebuah istilah yang
lebih umum dalam bahasa Inggris daripada Blok Barat, karena pemerintah dan pers
Blok Barat cenderung menyebut dirinya sebagai “Dunia Bebas”. Menurut Matlof,
“Perang Dunia II merupakan perubahan mendasar dalam kesimbangan kekuatan
internasional, ketika sebuah strategi koalisi demi kemenangan tidak member
solusi asli atau besar apapun”. Sebagian besar Eropa telah dibagi oleh
pendudukan Nazi dan kedua kekuatan super ini bertugas untuk menciptakan
pemerintahan-pemerintahan baru di Negara-negara Eropa.
Menurut Kissinger, “Ketegangan
dengan dunia luar melekat secara alami dengan filosofi komunis dan, di atas
segalanya, system Soviet dijalankan secara domestik. Sehingga permusuhan Uni
Soviet dengan dunia luar adalah upaya untuk mendorong hubungan internasional ke
dalam ritme dalam negerinya”. Hubungan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat
terus tegang dan Truman merasa ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet
adalah kontes antara baik dan buruk, tidak ada hubungannya dengan lingkup
pengaruh politik.
NATO berdiri “untuk
mengkoordinasikan pertahanan militer Negara-negara anggota terhadap kemungkinan
agresi Soviet.” PAKTA WARSAWA dibentuk sebagai respon langsung terhadap NATO.
Pakta ini berdiri untuk melindungi Negara-negara satelit Soviet yang dibentuk
setelah Perang Dunia II, dan menjamin bahwa tidak ada musuh yang menyerang
Negara-negara satelit tersebut. Menurut Kissinger, meski Uni Soviet mengikatkan
dominasinya di Eropa Timur karena Pakta Warsawa, aliansi nominal ini
jelas-jelas dipegang sebagai koersi.
B.
KONFLIK-KONFLIK
DI NEGARA KAWASAN ASIA TENGGARA SEBAGI DAMPAK PERANG DINGIN
Jatuhnya
Vietnam Utara ke tangan komunis dalam tahun 1954 ternyata telah merisaukan
Amerika serikat sebagai pelopor Blok Barat, sebab kekalahan pihak Barat itu
akan membawa akibat berjatuhnya satu persatu Negara-negara di kawasan Asia
Tenggara ke tangan komunis, bagaikan serangkaian kartu domino. Dari situ muncul
dan berkembang teori domino, yaitu bahwa Negara-negara Asia Tenggara akan jatuh
satu persatu ke tangan komunis seperti kartu domino.
Dalam
rangka pembendungan komunis di Asia Tenggara, maka pada tanggal 8 September
1954 dibentuklah SEATO (Southeast Asia Treaty Organization) di Manila. Dengan
demikian SEATO menjadi organisasi regional yang pertama di Asia Tenggara.
Adapun anggotanya adalah Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia,
Selandia Baru, Pakistan, Filipina dan Muangthai. Karena hanya dua Negara saja
yang berasal dari Asia Tenggara, maka SEATO lemah kredibilitasnya.
Banyak
Negara-negara Asia Tenggara yang tidak mau bergabug dengan ASA (termasuk
Indonesia) dikarenakan bahwa ASA dianggap sebagai antek SEATO dan imprealis
Amerika Serikat. Tetapi munculnya perselisihan politik antara Malaysia dan
Filiphina tentang Sabah (Kalimantan Utara) yang dimasukkan ke dalam federasi
Malaysia dalam bulan September 1963 telah melumpuhkan kegiatan organisasi
kerjasama regional tersebut. Setelah ASA menjadi beku karena masalah Sabah,
Filipina mengembangkan ide untuk membentuk semacam Konfederasi Melayu Raya
(Greater Malaya Confederation).
Sewaktu
Malaysia diresmikan pada tanggal 16 September 1963 yang mencakup Sabah,
Serawak, Singapura di samping Malaya kedalamnya, Indonesia meningkatkan
konfrontasi terhadap federasi baru itu. Dengan berlangsungnya konfrontasi
antara Indonesia dengan Malaysia, mala Indonesia membentuk poros Jakarta-Phnom
Penh-Beijing, dan keluarnya Indonesia dari PBB. Sulit untuk disangkal bahwa
hal-hal seperti itu telah merusak citra politik luar negeri Indonesia yang
bebas aktif.
Ketika
politik luar negeri Indonesia mengalami krisis kredibilitas yang berat di luar
negeri, dan juga di beberapa kalangan di dalam negeri, terutama
kekuatan-kekuatan non atau anti komunis seperti di Angkatan Darat dan
golongan-golongan agama, meletuslah peristiwa G30S/PKI. Keberhasilan penumpasan
G30S/PKI menjungkirbalikkan keinginan untuk membentuk Negara komunis di
Indonesia. Lagipula penumpasan tersebut diikuti dengan pelarangan PKI serta
ideology Marxisme/Komunisme serta jatuhnya kekuasaan Presiden Soekarno.
Pemerintah
Orde Baru berangsur-angsur mengembalikan citra politik luar negeri yang bebas
aktif. Konfrontasi dengan Malaysia diakhiri dan dalam waktu yang relative
singkat keanggotaan Indonesia di PBB dicairkan kembali. Serangkaian dengan itu
Indonesia memainkan peranan aktif dan menentukan dalam pembentukan organisasi
regional di Asia Tenggara.
C.
KETERLIBATAN AS,
USSR, CINA PADA PERANG DINGIN DAN PENGARUHNYA DALAM ASIA TENGGARA
Dengan berakhirnya Perang Dunia II di tahun 1945 membuat
lahirnya dua negara besar ini menjadi
negara yang mendominasi sistem
internasional yakni AS
dan USSR. Namun hubungan diantara kedua negara mulai
menunjukkan ketegangan yang didasari oleh kedua negara berbeda
dalam hal paham
dan ideologinya, diman AS dengan liberalismenya dan USSR dengan
kominsimenya. Sehingga keduanya
mencoba untuk berlomba-lomba memperluas pengaruhnya ke
penjuru dunia, selain itu keduanya memiliki kepentingan yang sama untuk
memiliki pengaruh di Asia
dan perebutan wilayah Jerman. Asia Tenggara sendiri dipilih
karena merupakan salah
satu kawasan yang strategis di dunia,
tidak mengherankan bila AS
USSR bersaing untuk
memperebutkan kawasan ini
dengan menyebarkan ideologi pada sepuluh
negara yang berada di kawasan ini yakni Kamboja,
Brunei Darussalam, Timor Timur, Indonesia, Laos, Myanmar, Filiphina, Singapura,
Thailand, serta Vietnam (Cipto, 2007). Tentunya dengan
terjadinya Perang Dingin yang memikliki
pengaruhnya hingga ke Asia
Tenggara telah membawa segala aspek perubahan sosial hingga
kondisi perpolitikan yang terjadi di antar negara di kawasan ini.
Situasi yang terjadi di Asia Tenggaradimulai dengan besarnya kekuatan dua
Negara Adidaya tersebut menjadikan Vietnam masuk ke dlam
‘korban’ peperangan dari Perang Dingin hingga secara kontan juga
turun menyeret negara-negara lain yang
berada dalam kawasan ini. Weatherbee
(2005) juga menyatakan bahwa “From
the outset of the Cold War, the focus of
containment in Southeast Asia was
on Vietnam” (Weatherbee, 2005). Disamping itu pada tahun 1952 saat terjadi
Perang Indochina I , efek-efek
paham komunisme telah masuk ke Vietnam Utara, Hal tersebut menjadi
kekhawatiran AS akan semakin menyebar luasnya
paham komunsime dengan terjadinya efek domino. Lalu di tahun 1954, saat
Perancis menyatakan
mundur dari Vietnam dan kembali terjadi
perang Indochina II yang resmi dimulau
tahuin 1961. Perang Indochina kedua merupakan
wujud dari proxy war dimana peperangan antara Vietnam
Utara yang membawa
pengaruh komunis, dan Vietnam Selatan
yang terpengaruh oleh Amerika Serikat
(Cipto, 2007). Selain itu juga situasi lainnya
yang terjadi dengan Amerika mengeluarkan
sejumlah kebijakan ontainment untuk membendung pengaruh komunisme USSR di Asia Tenggara. AS kemudian merealisasikan misi dari containment policy yakni dengan terbentuknya SEATO di tahun 1954
merupakan sebuah aliansi pertahanan yang dibangun antara Amerika Serikat,
Australia, New Zealand, Perancis, Inggris, Thailand, Filipina, dan Pakistan. SEATO pada dasarnya berbeda dengan NATO dan SEATO juga tidak
berbasis militer, namun lebih kepada aliansi
politik yang memberikan kerangka politik multilateral strategi pertahanan dari
ancaman komunisme (Weatherbee, 2005).
Pada dasarnya ideologi yang awalnya mulai berkembang di Asia Tenggara
adalah komunisme, dimana kawasan Asia tenggara
telah mengenal ideologi ini sebelum
Perang Dingin berlangsung. Disebutkan oleh Lau (2012) bahwa sejak tahun 1920an, paham komunisme telah menarik
perhatian sekelompok golongan di Asia Tenggara
yang menginginkan adanya revolusi
anti imperialsme Barat (Lau, 2012). Maka dari itu paham komunisme dari Uni Soviet dengan gampang menyebar pengaruhnya
di kawasan Asia yang terlihat dengan semakin bayak negara
yang mengaplikasikan komunisme di Negaranya (Weatherbee, 2005). Uni Soviet dalam
kepentingannya mencoba menyebarkan pahamnya ke Cina dan komunisme
di Cina menjadi
sangat berjaya. Kuatnya mazhab komunisme di Cina digunakan USSR untuk
mencoba semakin
mengembangkan komunisme di Asia
Tenggara melalui Vietnam. Di lain
sisi kepentingan yang dibawa Cina di Asia
Tenggara dalam hal mengembangkan komunismenya karena ingin mengembalikan
daerah kekuasaan Cina di zaman kuno
dan juga tentunya dari segi geografis Cina melihat
kekayaan alam di Asia Tenggara guna memperkuat posisi ekonominya dalam dunia internasional. Untuk itu
dalam Dekade pertama dari China sampai 1958 ditandai dengan kerjasama
Sino-Soviet dan upaya untuk menyeimbangkan kekuatan Amerika Serikat (Lau, 2012). Yang dilakukan
Uni Soviet dan Cina tentu
merupakan suatu ancaman bagi AS. Untuk itu maka
AS menerapkan containment policy dan juga menerapkan strategi mutual security
untuk
membendung pengaruh komunis di seluruh dunia, dengan
focus containment policy adalah Vietnam karena Vietnam menjadi negara pertama
yang rentan membawa
efek domino komunisme di wilayah Asia Tenggara.
Lebih lanjut lagi dalam
menyaingi USS AS juga menawarkan kerjasama yang lebih luas
terutama dibidang ekonomi dan politik
demi meningkatkan pembangunan nasional di negara-negara Asia Tenggara (Weatherbee, 2005: 57). Adapun
kepentingan Amerika untuk membendung pengaruh
komunis di kawasan Asia Tenggara salah satunya terlihat pada upaya Amerika dalam membantu Indonesia untuk diakui sebagai negara merdeka oleh Belanda pada 1949
(Lau, 2012). Namun upaya tersebut gagal karena presiden Soekarno
anti terhadap imperialisme, sehingga hal tersebut
membuat Indonesia lebih dekat kepada Uni Soviet Hal itu dimanfaatkan Uni Soviet
dengan memberikan bantuan terhadap Indonesia dalam kasus pembebasan Irian
Barat.
Selain itu juga kepentingan AS dan USSR sama-sama
terlihat dengan memiliki
pengaruh yang sangat kuat di
Vietnam. Konflik pun tidak
dapat dihindari antara Vietnam Selatan dan Vitnam Utara, namun ternyata Vietnam Utara yang keluar sebagai pemenang. Sejak
tahun 1965 saat Amerika mengirim banyak tentaranya untuk melawan Vietnam Utara.
Akibat terlalu banyaknya korban dan
pengeluaran Amerika dalam perang
Vietnam ini, menimbulkan banyak protes dari kalangan masyarakat Amerika dan
tentunya juga hak tersebut telah memberikan keuntungan bagi US. Hingga
pada tahun 1972, Amerika menarik pasukannya dari Vietnam dan pada
jauhnya Vietnam Selatan ketangan komunis
Vietnam Utara. Hingga sejak tahun 1975
Amerika mengurangi pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara (Cipto, 2007:38).
Perang Dingin ini juga telah menghasilkan tindakan-tindakan
tersendiri dari masing-masing negara seperti
contohnya Laos, Cambodia dan Vietnam
yang memilih mengambil jalan revolusi komunis,
sedangkan Filipina dan Thailand
lebih memilih berpihak pada Amerika
Serikat dan juga negara-negara
Asia Tenggara lainnya memilih aliansi mereka sendiri
dengan negara-negara barat. Tindakan dari masing-masing
negara di kawasan ini juga terlihat ketika negara-negara
yang baru mengalami dekolonialisasi berusaha mengambil jalan tengah untuk tidak
memihak
pihak manapun, yang direpresentasikan
dengan dibentuknya Gerakan Non-Blok dan Konferensi Bandung 1955 untuk mencegah adanya pencapaian kepentingan di Asis tenggara oleh negara
super power dan mecegah segala
bentuk imperialisme sehingga terciptanya suatu perdamaian dunia.
Dengan melihat bahwa
dua superpowers ini telah membawa dampak buruk
bagi stabilitas negara-negara di Asia Tenggara,
maka diperlukan suatu organisasi yang dapat wadah konvergensi kepentingan dan kerjasama
yang
dapat menghadapi
berbagai ancaman serta dapat mmeperkuat kerjasama di bidang ekonomi,
administrasi, pengetahuan, perdamaian, budaya dan politik di kawasan Asia Tenggara (Weatherbee, 2005). Yakni dengan salah satunya mendirikan sebuah organisasi regional yang disebut
sebagai ASEAN pada 8 Agustus 1967. Adapun
tindakan yang diambil
dari negara-negara yang tergabung
dalam ASEAN berusaha untuk menjaga independensi mereka dan mengahalau komunisme
untuk masuk ke wilayah Asia Tenggara, dalam prosesnya
AS sendiri sebagai salah satu negara
yang berperan besar dalam perang dingin
mampu memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh ASEAN, sehingga
dari situ kerja sama AS dan ASEAN mulai
terjalin pada tahun 1977 ASEAN juga melakukan kerjasama baik dengan,
Cina, Rusia, Jepang, dan negara-negara besar lainnya sebagai kekuatan besar di
Asia Tenggara.
BAB III
KESIMPULAN
Efek Perang Dingin dari AS dan USSR
yang telah meluas hingga ke daratan Asia, membawa dampak
besar bagi negara-negara di kawasan
Asia Tenggara, terutama bagi
Vietnam yang dapat dikatakan
sebagai “korban” dari proxy war yang dijalankan
oleh AS dan USSR. Namun disisi lain Perang Dingin
telah menciptakan solidaritas dan
keinginan bagi negara-negara
di Asia Tenggara
untuk menyatukan
kepentingannya ke dalam
sebuah organisasi regional
yang stabil, salah satunya adalah pembentukan ASEAN.
Dari perang dingin ini telah
mengajarkan kita sebagai generasi
selanjutnya bahwa ideologi,
kepentingan dan kekuatan yang dimiliki suatu negara dapat mempengaruhi
jalannya dinamika hubungan
antar negara di dunia. Dan juga dapat bahkan memicu perubahan besar – besaran di dalam
suatu kawasan. Sedangkan bagi Asia Tenggara
sendiri berakhirnya perang
dingin ini juga telah untuk memperluas jangkauan kerjasamanya dengan
menggandeng negara-negara besar di luar Asia Tenggara.
DAFTAR
PUSTAKA
Gunawan, Rudy (2013). Sejarah Asia Tenggara. Bandung:
Alfabeta
Hamidi, Rasyid dan Sugeng Riadi (1992). Sejarah Eropa
Terbaru. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar